Produsen dupa Indonesia: 4 sentra penting dari Malang hingga Pontianak
Produsen dupa Indonesia kebanyakan berupa usaha rumahan dan pabrik kecil, bukan perusahaan raksasa. Laporan media menunjukkan beberapa pusat produksi di Malang, Bali, Tangerang, dan Kalimantan Barat, dengan permintaan yang mengikuti kalender ibadah.

Peta singkat produsen dupa di Indonesia
Tabel ini merangkum daerah yang muncul dalam sumber kami. Daftar ini belum lengkap, karena kami hanya menulis yang tercatat dalam laporan yang kami baca.
| Daerah | Contoh pelaku | Yang menonjol | Tahun data |
|---|---|---|---|
| Kota Malang | Dupalo | Puluhan aroma dan ekspor | 2021–2024 |
| Dalisodo, Kabupaten Malang | Delapan perajin desa | Pemasok besar ke Bali | 2022–2025 |
| Desa Baha, Badung, Bali | UMKM setempat | Sedikitnya 500 kg per hari | 2025 |
| Desa Munggu, Badung, Bali | Yulia Agni | Dupa merah untuk Imlek | 2023 |
| Tangerang, Banten | Industri rumahan | Pengeringan menjelang Imlek | 2026 |
| Sungai Raya, Kubu Raya, Kalbar | Rumah produksi Harjono | Lebih dari 10 ribu batang per hari | 2022 |
Produsen dupa di Malang
Malang menarik karena produsen dupa di sana memiliki dua wajah sekaligus. Di kota, Dupalo membangun merek dan menjual puluhan aroma. Di kabupaten, para perajin desa memasok dupa dalam jumlah besar ke pulau lain.
Desa Dalisodo di Kecamatan Wagir menjadi contoh produsen dupa tingkat desa yang jelas. Pada 2023, Jatim Times melaporkan bahwa perajin di sana bisa menerima pesanan sampai 1 ton per minggu, dengan pengiriman terbanyak ke Bali dan sebagian ke Surabaya. Harga setengah jadi saat itu sekitar Rp6.000 per kilogram.
Kisah Giman di Dusun Bedali menunjukkan perubahan penting. Ia dulu hanya membuat dupa setengah jadi, lalu mulai mencoba dupa wangi pada 2017 dan berhasil pada 2021. Aromanya mencakup melati, cempaka, dan cendana, dengan harga Rp7.000 sampai Rp25.000 per renteng. Selain itu, ia mulai berjualan daring.

Rencana merek bersama di Dalisodo
Persaingan antar-produsen dupa menjadi masalah tersendiri. Pada 2025, Jatim Times mencatat delapan perajin di Dalisodo, dan pemerintah desa berencana menyatukan mereka di bawah BUMDes. Dengan begitu, penjualan berjalan bersama, bukan sendiri-sendiri.
Ada tiga tujuan utama dalam rencana itu:
- Menjual pada harga yang lebih wajar dan stabil.
- Menjalin kerja sama dengan pembeli di Bali.
- Membangun merek Dalisodo, termasuk pengemasan di desa sendiri.
Rencana ini patut Anda ikuti, karena nilai tambah terbesar sering muncul pada merek dan kemasan. Namun, sumber kami belum melaporkan hasilnya, jadi kita belum tahu apakah rencana itu berjalan.
Produsen dupa di Bali
Bali berperan sebagai pasar sekaligus rumah bagi banyak produsen dupa. Umat Hindu memakai dupa dalam persembahan harian seperti canang sari, sehingga kebutuhannya berlangsung sepanjang tahun.
Di Desa Baha, Badung, pelaku UMKM dilaporkan mampu memproduksi sedikitnya 500 kg per hari pada 2025, dengan harga Rp20.000 per kilogram. Mereka melayani pesanan untuk hari suci Hindu dan Imlek. Namun, musim hujan memperlambat pengeringan.
Sementara itu, Yulia Agni di Desa Munggu berdiri pada 2019 dan mempekerjakan 15 orang pada 2023. Mereka menjual dupa merah dalam kemasan 800 gram seharga Rp35.000 sampai Rp40.000. Ada juga dupa tiong besar yang menyala sekitar lima jam. Pesanan terbesarnya justru datang dari Lampung, lalu Sulawesi, Lombok, dan kota-kota di Jawa.
Pertumbuhan di Bali juga memengaruhi daerah lain. Perajin Malang kepada Jatim Times mengeluhkan munculnya banyak usaha baru di Bali, termasuk yang memakai mesin.

Produsen dupa di Tangerang
Tangerang memiliki komunitas Tionghoa dengan sejarah panjang, termasuk Klenteng Boen Tek Bio yang tua. Foto Reuters yang detikFinance muat pada Februari 2026 menampilkan pekerja industri rumahan yang mengeringkan batang dupa di sana.
Laporan itu menyebut permintaan biasanya melonjak beberapa minggu sebelum puncak perayaan Imlek. Akibatnya, para produsen mempercepat produksi dan pengeringan. Sayangnya, sumber ini tidak menyebut nama usaha atau jumlah produksinya.

Produsen dupa di Kalimantan Barat
Contoh dari luar Jawa dan Bali datang dari Sungai Raya, Kubu Raya. Republika pada 2022 melaporkan rumah produksi milik Harjono, yang saat itu baru berusia empat tahun, membuat lebih dari 10 ribu batang per hari.
Pesanan naik drastis sejak dua pekan menjelang Imlek, terutama dari warga Tionghoa Kalbar. Harganya berkisar dari Rp350 sampai sekitar Rp23 ribu per batang, tergantung ukuran. Rentang ini menunjukkan betapa lebarnya pasar hio, dari batang kecil harian hingga batang besar untuk perayaan.
Rantai pasoknya juga menarik. Usaha ini mendatangkan tepung dari Semarang, kalsium dari Jakarta, lidi dari Jember dan Malang, serta lem dari Thailand. Jadi, satu batang dupa bisa melibatkan banyak daerah, bahkan bahan impor.
Mengapa permintaan dupa bersifat musiman
Kalender ibadah sangat menentukan jadwal produsen dupa. Berikut pola yang muncul dalam laporan:
| Waktu | Kebutuhan | Contoh laporan |
|---|---|---|
| Menjelang Imlek | Hio dan dupa merah | Yulia Agni memperkirakan kenaikan hingga 100 persen |
| Menjelang Imlek | Dupa beraroma | Dupalo melaporkan kenaikan 10 sampai 20 persen |
| Galungan dan Kuningan | Dupa untuk umat Hindu | Pesanan ke Bali dan Malang |
| Sepanjang tahun | Persembahan harian | Pasar tetap di Bali |
Bagi produsen dupa, pola ini berarti penghasilan yang naik turun. Selain itu, puncak Imlek sering jatuh pada musim hujan, padahal pengeringan bergantung pada matahari. Inilah benturan yang paling sering muncul dalam laporan.
Kalender juga tidak selalu menolong. Pada 2022, Giman menyebut permintaan tidak naik seperti biasanya menjelang Galungan, Nyepi, maupun Imlek, karena dampak pandemi dan persaingan baru.
Bagaimana produsen dupa membuat produknya
Secara umum, proses di tempat produsen dupa mengikuti urutan yang sama, walaupun resepnya berbeda. Pertama, perajin menyiapkan lidi atau bilah bambu kering. Lalu, mereka mencampur serbuk kayu, tepung atau perekat, dan air menjadi adonan.
Setelah itu, adonan melapisi batang, dengan tangan atau mesin. Batang kemudian mengering, biasanya di bawah matahari. Tahap terakhir adalah memberi aroma, lalu mengemasnya. Dupalo, misalnya, memakai serbuk kayu jati dan menyemprotkan pewangi setelah dasarnya jadi.
Panduan dari BWC India membedakan dua pendekatan utama. Dupa masala memakai adonan yang sudah berisi bahan wangi, sedangkan batang polos menerima pewangi belakangan. Panduan itu juga menyebut bahwa dupa murah sering berasal dari batang polos yang dicelup. Karena itu, harga dan cara pembuatan biasanya berkaitan erat.

Rantai nilai: dari setengah jadi sampai merek
Tidak semua produsen dupa menjual produk akhir. Banyak yang berada di tengah rantai, sehingga margin terbesarnya berada di pihak lain. Secara sederhana, rantainya terlihat seperti ini:
- Bahan baku: lidi, serbuk kayu, tepung, perekat, dan pewangi.
- Dupa setengah jadi: batang tanpa aroma, sering terjual per kilogram.
- Dupa wangi: batang yang sudah beraroma.
- Merek dan kemasan: produk siap jual dengan nama dan label.
- Pengecer dan marketplace: tahap terakhir menuju pembeli.
Perbedaan harganya terlihat jelas dalam laporan. Dupa setengah jadi Dalisodo sekitar Rp6.000 per kilogram pada 2023, sedangkan Dupalo melaporkan Rp324.000 untuk satu kilogram kelas emas pada 2024. Tentu keduanya bukan produk yang sama, tetapi selisih ini menunjukkan besarnya nilai tambah pada aroma, mutu, dan merek.
Tantangan yang dihadapi produsen dupa
Laporan tentang produsen dupa memperlihatkan beberapa masalah yang berulang:
- Cuaca: pengeringan bergantung pada matahari, terutama saat musim hujan.
- Merek: sebagian perajin belum memiliki merek sendiri, sehingga bersaing lewat harga.
- Pendapatan: penghasilan mengikuti musim ibadah.
- Persaingan: usaha baru dan mesin menekan perajin lama.
- Bahan baku: sebagian bahan berasal dari luar daerah, bahkan impor.
- Kepercayaan: klaim mutu sulit pembeli bandingkan, karena daftar bahan dan sertifikat jarang terbuka.
Pandemi juga memukul banyak produsen dupa. Jatim Times mencatat pengiriman yang sempat turun menjadi dua kali sebulan pada masa itu. Namun, usaha yang sudah berjualan daring seperti Dupalo melaporkan dampak yang lebih ringan.
Cara memilih produsen dupa untuk bisnis Anda
Jika Anda ingin menjual ulang atau memesan dalam jumlah besar, lakukan pemeriksaan sederhana sebelum membayar. Berikut langkah yang kami sarankan:
- Minta sampel kecil. Bakar di ruangan biasa, lalu catat aroma, asap, dan lama nyala.
- Tanyakan bahan. Mintalah penjelasan tentang dasar batang, perekat, dan jenis pewangi.
- Cek konsistensi. Bandingkan dua kiriman berbeda, karena mutu bisa berubah antar-batch.
- Hitung harga per batang. Harga per kilogram mudah menipu jika ukuran batang berbeda.
- Minta bukti klaim. Sertifikat dan uji laboratorium seharusnya bisa penjual tunjukkan.
- Tanyakan kapasitas musim puncak. Pesan jauh sebelum Imlek atau hari raya, karena pengeringan bisa tertunda.
- Sepakati kemasan dan label. Pastikan keterangan aroma tidak menyesatkan pembeli akhir.
Cara memilih dupa lokal sebagai pembeli rumahan
Pembeli rumahan tidak perlu menguji produsen dupa di laboratorium. Mulailah dari kemasan kecil, lalu baca ulasan yang menyebut kekuatan aroma dan banyaknya asap. Pelajari juga jenis-jenis bentuk dupa, karena bentuk sangat memengaruhi pengalaman pakai.
Selain itu, pakailah dupa dengan ventilasi baik. Baca panduan keamanan asap jika Anda memakainya di rumah secara rutin. Jika ingin mencoba bahan mentah Nusantara, lihat kemenyan Sumatra dan damar mata kucing.
Apa yang memengaruhi harga dari produsen dupa?
Harga dari produsen dupa sangat beragam, dan satu angka saja mudah menyesatkan. Tabel ini mengumpulkan angka dari laporan yang kami baca, sehingga Anda bisa melihat rentangnya:
| Produk | Harga dilaporkan | Tahun | Tempat |
|---|---|---|---|
| Dupa setengah jadi | Sekitar Rp6.000 per kg | 2023 | Dalisodo, Malang |
| Dupa dari UMKM | Rp20.000 per kg | 2025 | Baha, Bali |
| Dupa wangi per renteng | Rp7.000 sampai Rp25.000 | 2022 | Bedali, Malang |
| Dupa merah 800 gram | Rp35.000 sampai Rp40.000 | 2023 | Munggu, Bali |
| Hio per batang | Rp350 sampai sekitar Rp23.000 | 2022 | Kubu Raya, Kalbar |
| Kemasan 9 batang | Rp18.000 | 2024 | Dupalo, Malang |
| 1 kg kelas emas | Rp324.000 | 2024 | Dupalo, Malang |
Setidaknya ada lima faktor yang menjelaskan perbedaan ini:
- Tahap produk: dupa setengah jadi jauh lebih murah dari produk siap jual.
- Pewangi: minyak yang lebih baik menaikkan biaya.
- Ukuran batang: satu hio besar bisa setara puluhan batang kecil.
- Merek dan kemasan: keduanya menambah nilai sekaligus biaya.
- Musim: pesanan menjelang hari raya bisa mendorong harga dan tenggat.
Karena itu, jangan membandingkan produsen dupa hanya lewat harga per kilogram. Bandingkan juga jumlah batang, lama nyala, dan mutunya.
Dari mana produsen dupa mendapat bahan baku?
Bagi produsen dupa, bahan baku menentukan biaya dan mutu. Rumah produksi di Kubu Raya, misalnya, memakai bahan dari banyak tempat. Selain itu, perajin di Malang menjadi pemasok lidi bagi daerah lain, menurut laporan Republika.
| Bahan | Fungsi | Contoh asal dalam laporan |
|---|---|---|
| Lidi atau bambu | Inti batang | Jember, Malang |
| Serbuk kayu | Bahan terbakar | Serbuk kayu jati pada Dupalo |
| Tepung atau pialit | Pengikat adonan | Semarang |
| Kalsium | Bahan campuran | Jakarta |
| Lem | Perekat | Thailand |
| Pewangi | Pemberi aroma | Ekstrak dan minyak wangi |
Ketergantungan ini punya dua sisi. Di satu sisi, usaha kecil bisa membeli bahan siap pakai tanpa modal besar. Di sisi lain, kenaikan harga bahan impor langsung menekan margin mereka.
Peran marketplace bagi produsen dupa
Penjualan daring mengubah peta pasar bagi produsen dupa. Dupalo mulai berjualan daring pada 2019, dan sebagian besar pesanan luar negerinya datang lewat marketplace. Giman di Bedali juga beralih ke penjualan daring, karena ia menilai cara lama sulit membawa usahanya berkembang.
Marketplace menawarkan beberapa keuntungan nyata. Produsen kecil bisa menjangkau pembeli jauh, menguji aroma baru, dan membangun ulasan. Namun, jalur ini juga menuntut kemasan rapi, foto yang jelas, dan keterangan yang jujur.
Selain itu, persaingan harga di marketplace bisa sangat ketat. Jadi, produsen perlu pembeda yang nyata, misalnya aroma khas, bahan yang jelas, atau cerita asal-usul yang bisa pembeli periksa.
Lima langkah bagi produsen dupa untuk naik kelas
Laporan tentang produsen dupa memperlihatkan pola yang cukup konsisten. Berdasarkan pola itu, inilah lima langkah yang menurut kami masuk akal:
- Bergerak dari setengah jadi ke produk wangi. Giman menempuh jalan ini, walaupun butuh beberapa tahun percobaan.
- Membangun merek sederhana. Nama, logo, dan label yang jelas sudah membedakan produk.
- Bergabung dengan kelompok. Rencana BUMDes di Dalisodo menunjukkan cara menghindari perang harga.
- Membuka data bahan. Pembeli makin sering bertanya, dan keterbukaan membangun kepercayaan.
- Menyiapkan pengeringan untuk musim hujan. Puncak Imlek sering jatuh saat hujan, sehingga ruang pengering bisa sangat membantu.
Langkah ini adalah saran kami, bukan hasil penelitian khusus. Jadi, sesuaikan dengan modal dan keadaan usaha Anda.
Klaim yang perlu pembeli cek pada produsen dupa
Klaim mutu dari produsen dupa sering muncul tanpa rincian. Sebagai contoh, kata alami, halal, dan bersertifikat internasional muncul dalam liputan media, tetapi jenis sertifikat dan penerbitnya tidak selalu tersebut. Hal ini tidak berarti klaimnya salah, hanya belum bisa Anda periksa.
Klaim kesehatan perlu lebih hati-hati lagi. Dupa bukan obat, dan asapnya tetap mengandung partikel halus. Oleh karena itu, pilih produsen dupa yang bersedia menjelaskan bahan dan peringatan pemakaian dengan jujur.
Lebih dari dupa batang: bahan aromatik Nusantara
Indonesia bukan hanya pembuat dupa batang. Negeri ini juga memasok bahan aromatik bersejarah, sehingga pelaku usahanya mencakup petani dan pengumpul hasil hutan:
- Kemenyan dari dataran tinggi Tapanuli di Sumatra Utara.
- Gaharu dari Aquilaria dan Gyrinops, yang perdagangannya diatur CITES.
- Cendana dari Nusa Tenggara Timur.
- Damar dari repong yang masyarakat Krui kelola.
Bahan-bahan ini menghadapi tekanan kelestarian yang berbeda. Jadi, saat membeli, tanyakan asal bahannya.

Keterbatasan artikel ini
Artikel ini bukan direktori lengkap, dan kami tidak menyusun peringkat. Angka produksi dan harga berasal dari laporan pada tahun tertentu, sehingga bisa saja sudah berubah. Kami juga belum mengunjungi produsen ini atau menguji produknya.
Jika Anda produsen dupa dan ingin data usaha Anda diperbaiki, kami ingin mendengarnya. Sementara itu, jelajahi katalog dupa Indonesia di Dupa Incense.
Pertanyaan yang sering diajukan
Di mana sentra produsen dupa di Indonesia?
Laporan media menunjukkan produksi di Malang, Badung di Bali, Tangerang, dan Kubu Raya di Kalimantan Barat. Daftar ini belum lengkap.
Kapan permintaan dupa paling tinggi?
Laporan paling sering menyebut masa menjelang Imlek, serta hari raya Hindu seperti Galungan dan Kuningan.
Berapa harga dupa grosir di Indonesia?
Laporan menyebut sekitar Rp6.000 per kilogram untuk dupa setengah jadi di Dalisodo pada 2023, dan Rp20.000 per kilogram di Desa Baha pada 2025.
Apa beda dupa setengah jadi dan dupa wangi?
Dupa setengah jadi belum beraroma, sedangkan dupa wangi sudah menerima pewangi. Harga dupa wangi biasanya lebih tinggi.
Bagaimana cara memilih produsen dupa untuk dijual ulang?
Minta sampel, tanyakan bahan, bandingkan beberapa kiriman, lalu hitung harga per batang sebelum memesan banyak.
Dari mana bahan baku dupa berasal?
Satu rumah produksi di Kalbar mendatangkan tepung dari Semarang, kalsium dari Jakarta, lidi dari Jember dan Malang, serta lem dari Thailand.
Sumber
- Jatim Times: Pemdes Dalisodo Satukan UMKM Dupa (2025)
- Jatim Times: Perajin Dupa di Malang Kebanjiran Pesanan (2023)
- Jatim Times: Jelang Imlek, Produksi Dupa di Wagir Terus Menurun (2022)
- detikFinance: Melihat Produksi Dupa untuk Sembahyang di Bali (2025)
- detikBali: Pabrik Dupa Merah di Badung (2023)
- detikFinance: Produksi Dupa Meningkat Jelang Imlek (2026)
- Republika: Pesanan Dupa Meningkat di Kalbar (2022)
- Jawa Pos: Berhasil Ekspor hingga Pasar Eropa (2024)
- Medcom.id: Produsen Dupa di Malang (2021)
- BWC India: Agarbattis


